Wednesday, December 29, 2010

Lembayung Mimpi

Pernikahanku sudah terjadi. Akad yang khidmad, tamu yang hilir mudik baru saja kulalui. Anggi kulihat sangat bahagia akan pernikahan ini. Tawa mengembang selalu terlihat di wajahnya, ia menjadi manja sekali. Bayangkan betapa berengseknya aku. Saat bulan madupun aku ingin cepat pulang, mata Amira masih menancap sejak pertemuan kami yang terakhir. Ia terlihat sangat sakit, matanya yang berapi-api menjadi muram, ingin sekali aku menyentuhnya, ada disampingnya, menghilangkan batuk yang menyiksanya.



Satu bulan sebelum pernikahan...

Gema Allahuakbar sudah habis kemarin malam. Hewan-hewan pengurbanan sudah mati disembelih, yang tersisa hanya daging-daging yang siap untuk mencium bara pembakaran. Kami sudah berkumpul, pesta kecil-kecilan untuk menghabiskan malam diantara rasa lelah seusai bekerja. Amira sangat menikmati saus asam manis buatanku, dentingan garpu yang menyentuh piring porselen meramaikan suasana dalam obrolan-obrolan kecil. Ini tanggal tua untuk kantong kami berempat, tak ada salahnya aku pakai kartu kredit untuk menambah keceriaan malam ini, "Karoke yo, masih jam 8".

Aku terbawa suasana, tawa Amira yang membuat matanya menyipit tak akan kulupa. Suaranya yang cukup bagus menghipnotisku sejak awal. Aku berteman dengannya sudah cukup lama, baru malam ini aku menyadari pesonanya, pun kaki bergesekan bersebelahan, kulit kami bersentuhan. Tak ada penolakan ketika malam itu semakin mendekat, Amira mendapat sinyal itu, walaupun hanya sebatas genggaman tangan, aku tau aku sedang mengobarkan api.

***

Ini malam terakhir aku bisa menghabiskan waktu dengan Imran, Amira yang bodoh! Harusnya aku tidak membuka hati untuknya, salahkah rasa ini ketika menggebu muncul ke permukaan? Jujur pada malam itu aku tidak tau ia akan menikah, kalau saja aku tau tidak akan ada senyum mengembang karena bahunya yang hangat saat malam itu. Semua sudah terjadi, bahkan aku harus membiarkan takdir mentertawakanku berkali-kali. Imran bernyanyi, lembut ia berbisik di telingaku, "This song for you: It's hard to say good bye". Aku terpaku, menyelimutkan perih yang ingin segera kubalut.

***

Tuhan kalau rasa ini benar kenapa tak Kau biarkan Amira yang menjadi jodohku? Aku membuang imaji yang ingin kusudahi, tak ingin kumembuat luka kedua kali pada seorang wanita. Dimatikannya lampu, waktunya mencumbu, Anggi istriku.

Friday, December 24, 2010

#JustSaying Pertanyaan Hidup

Pernah gak kamu ngerasa selain Allah itu baik banget tapi sekaligus jahat?? Kita diajarin untuk bersabar dan jauh lebih kuat setelah beberapa kali terjatuh, tapi kalau jatuhnya itu gak selesai-selesai??

Semua itu takdir. Apa Allah ingin umat-Nya bersedih? Allah juga ingin banyak sekali keributan disekitar kita? Allah ingin menguji umat-Nya, Ia menghidupkan manusia yang baik dan berprilaku buruk lantas 'menjebloskannya' ke dalam api neraka. Apa manusia punya hak hidup seenaknya karena kita tidak minta dilahirkan? Bolehkah segala sesuatu itu hanya ada kebaikan dan surga saja?

Manusia harus selalu bersyukur, alhamdulillah sudah dikasih hidup. Tapi kadang selalu ada pertanyaan menyentil seperti ini: Sebenarnya Allah itu ingin kebaikan tapi kenapa masih banyak takdir yang buruk? IKHLAS kuncinya :)

Thursday, December 23, 2010

Menyapu Waktu

Yang terdengar hanya suara detik jam dan detak jantung yang bertalu-talu...

Bersatu padu bersekutu dengan waktu yang tersihir untuk berhenti melaju...

Nafas memburu merebak jarak, lumatan lembut sekian detik yang membuatku tersipu...

Sekian detik?? Ah hanya Tuhan yang tau ketika kami bergerilya dengan penuh nafsu...

Gadis Botol Bir #111kata

Botol bir hijau sudah beralih tangan ke gadis berekor kuda itu. Pengunjung baru yang mencuri perhatianku selama seminggu, malam ini ia memakai tank top bertumpuk, memperlihatkan tato naga di punggung kirinya dan dua huruf kanji jepang di pergelangan tangan. Seperti biasa ia tak bergeming menolehkan kepalanya untuk berterima kasih sekalipun.

Gelang bergemericing saat ia menghisap Marlboro merah. Tak sadar ia sedang membalas pandanganku. Dengan tenang ia mengamatiku sambil meminum birnya. Kikuk, aku ditolong pengunjung bule yang baru saja datang. Tak sampai sepuluh menit gadis itu meminta bill, gugup aku didekatinya. Ia bangkit berdiri, "Kau mirip sekali dengan tunanganku yang sudah meninggal". Gadis itu pergi dengan tato naga dipunggungnya, tak pernah kembali.

Cinta (Tak) Semusim

Ditutup dengan gelengan kepala aku pamit dan berlalu dari hadapan Bian dengan santai. Sudah beberapa kali aku melewati kejadian seperti ini, wajah kecewa, penolakan, bahkan cacian hanya menjadi bumbu yang tak perlu aku khawatirkan.

Kali ini lain. Sore yang meredup ditemani lagu lawas Justin Timberlake membuat aku dan Bian tertawa-tawa dan bersahutan melantunkan lagu Senorita, ini sangat mustahil kami lakukan di depan teman-teman yang lain. Sambil mengetik beberapa data aku sesekali tertawa melihat tingkah konyol Bian, sambil menunggu hasil copy-an file, ia menari-nari ala JT dan MJ. Tiba-tiba diakhir lagu ia sudah ada di depan layar komputerku sambil menatap dengan lembut dan menggoda, "gentelmen.. Good night, Ladies... Good morning..." aku tertawa lepas dan menutupi mukanya dengan kertas yang sudah tak dipakai. Ia tergelak dan meraih pergelangan dan memaksa aku untuk beristirahat sejenak. Aku melepaskan tangan Bian dengan halus dan mengikutinya sejajar. Tak biasanya ia seceria ini, Bian adalah rekan kerjaku yang sangat dipercaya dan diandalkan, ia berwajah manis dan sangat berwibawa. Satu jam lewat kami berada di kafe ini, perut yang keroncongan sudah terisi, bahan rapat esok hari sudah habis kami bahas. Entah apa maksud Bian, ia sangat tau aku tidak punya keinginan untuk menikah dan mempunyai pasangan. Bian tau aku sangat trauma dengan melihat pernikahan Bapak dan Ibuku. Bian melamar tepat saat jarum jam menunjuk angka enam dan tiga. Aku sudah tidak ingin lagi mendengarnya, yang terdengar hanyalah akhir kalimatnya yang lembut dan perhatian, "Beri aku kesempatan membuka duniamu".

*****

Aku mencaci udara yang kering, tangisku pecah meraung, menggenang kenang sosok Ibu yang sudah tenang dalam peristirahatannnya. Seandainya aku bisa menggapai Bapak dan menyeretnya keluar dari pikiranku, kini aku sudah menjadi Ibu.

"Biaannn.... Beri aku waktu" bisikku pada angin yang bisu.

*****

Tiga bulan sudah aku menapaki Borneo. Kenangan hiruk pikuk Jakarta dan Kosan Hijau dibalik gang sempit mencambukku sesekali waktu. Biaaannn....

Baru saja sinyal maya mengantarku dihadapannya, telah kukubur ego rapat-rapat, mencumbu bayangannya sesaat.

Tak lama pintu dibuka dari luar kamar. Arman masuk membawa pisang cokelat hangat dan mencium bibirku cepat, "sedang apa sayang?"

Wednesday, December 22, 2010

ROOF TOP

Meresap sesak dari tubuhnya yang beraroma khas, rahang tegas maha karya Tuhan yang begitu pas terukir membentuk wajahnya. Emily begitu anggun dan terkadang serampangan sesuai mood-nya, keunikan yang mampu membuat dadaku meletup bila melihatnya. Ia bukan wanita biasa.

*****

Aku masih saja berjibaku dengan designku saat Emily datang menghampiri.

"Sebaiknya kau buat atap ruangan ini transparan agar dapat menikmati langit malam, buat pintu samping ini dwi fungsi, pakai saja pintu geser kaca agar terlihat lebih luas. Pohon ini jangan kau tebang". Emily begitu lancar dan terlalu hapal untuk orang yang baru melihat rancanganku. Sungguh luar biasa.

"Kapan batas waktu terakhirnya? Klienmu itu si Pengusaha hotel itu kan?" Emily masih berdiri disebelahku dengan santai menyeruput teh chamomilenya.

Aku hanya mengangkat bahu dan pura-pura sibuk berkutat dengan 'mainanku'.

"Dasar aneh..." Ia tersenyum kecil sambil berlalu pergi.

Heeiii Nona, benar aku memang aneh, kau yang mulai menampar hatiku untuk pertama kali. Aku menaruh pensil dengan kesal sambil mengumpat dalam hati. Perasaan luar biasa yang mungkin terlalu terlambat untuk pria seusiaku. Sekejap Emily lenyap dari pandangan, meninggalkan aroma khas yang kusuka. Ku ambil pensil perlahan dan memasukan ide yang Emily berikan, brilian.

*****

Aku hanya berdiri mematung saat kedua pasangan itu menjabat tanganku erat.

"Terima kasih Scott, ia sangat menyukai design rumahmu" Mr. James merangkulku kokoh.

Emily tersenyum lebar dan menjabat tanganku lembut, "Undangan pernikahan kami, terima kasih sudah memberikan hadiah yang begitu indah".

Dentingan gugusan air hujan terdengar dari atap yang penuh mimpi. Aku menengadah sesap.

Monday, December 20, 2010

Secangkir Kopi Yang Menghitam #111kata

Angin bertiup cukup kencang sore ini, Kinan menyelipkan rambut ikalnya di belakang telinga sambil memilah foto alam Karimun Jawa hasil jepretannya. Tangannya menggantung di udara tatkala ia mencium aroma kopi hitam pekat menusuk hidungnya. Cepat ia membalikkan tubuhnya untuk melihat sang empunya. Seorang pria paruh baya tampak tenang menerima kopi tersebut tak menyadari tatapan Kinan yang menghujam.

Seketika Kinan meninggalkan tempat tersebut. Napasnya tersengal. Sudah lama sekali ia tidak kembali ke kota. Ia memejamkan mata mengusir pikirannya. Secangkir kopi pekat hitam dan bayangan yang ikut menghitam. Malam yang begitu dingin, teronggok segelas kopi hitam pekat kesukaan almarhum Papa yang teringat saat Mama pergi dari rumah enam tahun lalu. Kinan benci kopi...

Saturday, December 04, 2010

PETARUNG MIMPI

Mimpi Vanya malam ini....

Vanya meletakkan telunjuk kanannya di bibir, segera ia menggandeng tangan Naia dan mengajak si kembar Fadli dan Fadlan ke garasi rumahnya. Dengan jalan mengendap-endap layaknya dalam film Detektif mereka membuat barisan sambil melihat keadaan sekeliling. "Aman" Fadli berbisik sambil membawa kaca pembesar ala detektif cilik Conan.

"Aku bisa terbang" pekik Vanya.

Naia dan si kembar saling berpandangan, tak kurang dari satu menit mereka sudah berdebat seru layaknya anak umur 6 tahun yang tak mau kalah mengenai kehebatan mereka. Vanya tersenyum girang melihat tingkah teman-temannya, lalu ia memejamkan mata. Perlahan tubuh kecilnya melayang tak berpijak pada telapak bumi. Vanya sedikit berteriak untuk menghentikkan perdebatan teman-temannya, "Lihat aku!!!" Seketika baju mainnya berubah menjadi gaun putih yang menjuntai ke lantai, lalu muncul sayap kecil yang menempel pada punggungnya, berkilau. Vanya tertawa riang, ia menari-nari mengelilingi garasi. Naia dan kembar Fadli dan Fadlan membelalakan matanya, mulut mereka membentuk gua kecil. Terpukau.

Mimpi Naia Malam ini....

Naia tersenyum congkak melihat Vanya menatap iri pada gaun dan sepatu cantik barunya. Pikirnya pasti ia barbie tercantik di pesta nanti. Sambil bersiap diri, dayangnya dengan sigap menyisir rambut Naia sampai seratus kali agar berkilau.
Naia berkaca di depan cermin, "Hai cermin, siapakah wanita yang paling cantik di negeri ini?" Bagai tersihir sang dayang menjawab pasrah, "Yang Mulia Tuan Putri". Naia tersenyum manis sekali pertanda puas. Vanya mengerucutkan bibirnya sebal.

Mimpi Fadli malam ini....

Dibalik sebuah pintu ia mendengar suara-suara yang dikenalnya, Jenderal Kumis sedang menyalakan korek api gas, Nyonya Gendut cemas bertanya sambil melirik lemari yang sedikit terbuka, "Jadi bagaimana?" Jenderal Kumis berdeham, "Kita habisi si Tompel, hanya dia saksi kunci, Nyonya jangan khawatir, asal Nyonya tidak bicara macam-macam di Pengadilan nanti, sebaiknya Nyonya pergi sekarang!"

Fadli cepat-cepat pergi, dengan sekali kerjapan mata ia menghilang dari balik lemari ketika Nyonya Gendut memeriksanya. Huffftttt... Hampir saja. Aku harus memberi tahu Detektif Gundul, penyamaran Jenderal Kumis harus segera terbongkar. Disiapkannya rekaman pembicaraan tadi, senyumnya mengembang membayangkan dirinya menjadi asisten cilik tetap Detektif Gundul.

Mimpi Fadlan malam ini....

Dilihatnya api yang menjilat-jilat, membuat Kapten Fadlan sigap membalikkan badan pesawat. Tangan kecilnya berkeringat memegang kendali pesawat Jet. Kapten Fadlan berteriak kesal, "Kapten Fadli lindungi aku, aku akan memutar menembak mata Naga berkepala dua". Tapi di ujung sana tak pernah ada tanda-tanda jawaban dari Kapten Fadli. Naga berkepala dua terus menerus menyemburkan api dari mulutnya. Kapten Fadlan pasrah, ia berjuang seorang diri kini. Tak sadar ia bernyanyi dengan kencang, mengeluarkan suara merdunya yang lembut. Tak disangka sang Naga berkepala dua beringsut mundur, dilihatnya sepasukan peri yang terbang menutupi mata sang Naga. Kapten Fadlan terus bernyanyi sambil menyiapkan serangannya. Pasukan peri memberi tanda agar Kapten Fadlan cepat-cepat menembaknya, sang Naga berkepala dua semakin liar menyemburkan api, dilihatnya pasukan peri mulai kewalahan. Dengan gesit akhirnya ia menembakkan peluru dari Pesawat Jetnya dengan hati-hati. Naga berkepala dua akhirnya mati melalui pertahanan yang kuat. Kapten Fadlan tersenyum kepada pasukan Peri, nyanyiannya membangunkan mereka, dengan penuh rasa hormat ia masih bernyanyi sampai lagunya berakhir dan pasukan Peri menghilang dari pandangan.

Tuesday, November 23, 2010

(Takdir) Aku dan Hujan

Aku terduduk di bangku taman yang basah dibawah hujan. Gaun putihku kotor diujungnya karena menyapu jalan. Tak kupedulikan sekitar, orang-orang yang menepi untuk melindungi diri terlihat berbisik-bisik. Bicaralah! Aku tak peduli. Tom pun sudah hilang. Ia mengecewakanku tepat sebelum kami, aku dan dia memasuki altar. Ia berbohong akan menemaniku sampai nanti kulit kami keriput dimakan usia. Bahkan dia belum melihatku memakai gaun putih special ini. Kulitku yang halus terbungkus dengan apik dengan riasan cantik. Tom tidak pernah datang dan tidak mengijinkanku untuk melemparkan bunga kebahagian untuk teman-temanku yang sudah bersemangat menantinya. Alison hanya memelukku dengan tubuh ngilu. Tidak Al! ini pasti salah, untuk apa kamu memelukku? Tom tidak mati, ia baru saja meneleponku. Aku melepaskan pelukan Alison. Lututku lemas. D... Mom.... kenapa mereka menangis? Ini bohong besar, mereka tertipu! Segera ku ambil kunci mobil, Alison mengejarku. Sial! Kunci ini tidak mau berkompromi, dengan susah payah aku mencoba memasukan dengan benar. Alison mengambil alih kunci dari genggamanku. Dengan cepat aku menginjak gas menuju Rumah Sakit. Hening menyelimuti aku dan Alison, tak ada sepatah katapun yang meluncur dari mulut kami berdua.

Aku keluar dari Emergency Rooms dengan linangan air mata. Alison memelukku. Aku menepisnya dengan cepat. "Biarkan aku sendiri". Menembus hujan yang turun derasnya menghancurkan riasanku seketika. Rambut ikalku yang sudah tergelung rapi lepas dan menjadi lepek. Riasan mataku hancur akibat eyeliner yang pudar. Alison dengan setia menemaniku dari dalam mobil.

Aku terduduk di bangku taman yang basah dibawah hujan. Gaun putihku kotor diujungnya karena menyapu jalan. Aku hanya sedang berpikir. Dejavu. Inilah isi mimpiku setiap aku berulang tahun. Semesta yang memelukku dengan hawa dingin membuat jariku keriput, hujan belum berhenti, angin mengecup pipiku yang membuat rahangku semakin mengatup. Kulihat jam tangan yang melingkar ditangan kiriku, Tom yang memberikannya setelah ia bertugas dari Kanada. Sepuluh menit sebelum jarum jam menunjuk pukul lima tepat. Aku menoleh menyapu jalanan, Alison masih menungguku di dalam mobil, ia melambaikan tangannya mengajakku masuk ke dalam mobil. Aku terdiam menunggu sesuatu. Lima menit sebelum menuju jam lima tepat. Hujan sudah berhenti, membayar lunas tangisanku yang seharusnya masih mengalir. Semburat senja yang menggoda dihiasi pelangi centil yang memamerkan warna warninya terlihat cantik dibalik pohon Maple. Suara daun yang bergemerisik membuatku terperangah. Sosoknya yang tampan dibalut Tuxedo mendekatiku. Tanpa bersuara ia duduk disebelahku. Bicaralah melalui batinmu Lea. Alison masih memperhatikanmu, kau bisa dianggapnya gila, ia tak bisa melihat sosokku. Kamulah wanita pilihanku dimasa depan. Tom mati bukan karena salahmu. Ini takdir dari masa depan yang mengharuskannya mati dengan cara demikian. Kau tak bisa lari. Kamu adalah wanita terpilih Lea.

Aku masih mematung sesampainya di rumah. Pikiran yang bergelut dan kejadian aneh yang belum masuk akal pikiran masih merundungku. Mom menyambutku dengan syal hangat dan secangkir coklat panas buatannya. Langit kembali menurunkan jutaan liter air hujan. Mom menuntunku ke kamar, menjagaku sampai tertidur. "Tidurlah Mom bila aku sudah tertidur, jangan menjagaku". Ya. Aku hanya ingin tertidur. Kembali ke dalam mimpi yang sama setiap aku berulang tahun. James sudah menungguku di pintu itu. Aku memejamkan mata dalam mimpiku, membayangkan wajah Mom dan D. Aku tahu kemanapun aku berlari sosoknya akan muncul dihadapanku kapan saja. Batinku menangis mengingat kejadian demi kejadian dan orang-orang dalam kehidupan normalku. Maafkan aku. James menggamit telapak tanganku lembut. Jangan bersedih Lea, kamu akan mengerti setelah hidup di dunia barumu. Kehidupan Dewa memang ada, itu bukan hanya sebuah dongeng anak kecil. Aku melangkah melewati langit pekat yang mengguyurkan hujan tanpa menoleh kembali.

Sunday, November 21, 2010

Surat Untuk Ibu Laksmi Utami...

Untuk Ibu Laksmi Utami...

Kamu sudah menjadi ibu kan? Perjalanan dalam usia 34 menuju 35 apakah sudah ada kerut dimatamu? Atau masih muda seperti sekarang? Kalau belum menikah jangan bersedih, masih ingatkah hatimu selalu berbicara, "Masih banyak cinta yang bisa dibagi". Mungkin benar kamu adalah jelmaan malaikat baik hati yang bertugas memberikan cinta untuk siapa saja. Tersenyumlah!!

Untuk Ibu Laksmi Utami...

Kalau kamu sudah menikah, bahagiakah dengan lelaki masa depanmu? Sampaikan padanya, dia telah membuat aku khawatir dan sedih di usia 24 menuju 35. Apa kabar bayi kecil? Anakmu pasti lucu sekali sudah mulai belajar di bangku TK. Apakah keluarga kecil itu sesuai mimpi yang kamu ukir setiap harinya? Tersenyumlah!
!

Untuk Ibu Laksmi Utami...

Apakah rangkaian kata tersebut bermakna? Masih bernapaskah kamu di dunia? Apakah kamu di masa depan masih sering mengecewakan Tuhan dengan menanggalkan sajadah dan mukena? Buatlah kamu dan Tuhan tersenyum!!

Tuesday, November 16, 2010

Keangkuhan Senja

Senja yang lugu merapalkan semburat merah jingga di balik bangunan rumah dan kabel listrik yang melintang. Dengan hembusan napas teratur ia menengadahkan wajahnya melihat langit itu di balik jendela. Tak ada lagi sebuah nama pria yang mampu ia ingat untuk diberinya tumpangan cinta. Ia seperti dalam sebuah kapal tak bernahkoda, diingatnya kembali rentetan kisah masa silam. Tidak ada yang menarik selain kesedihan yang harus diingatnya. Sisa-sisa kesombongan masih kentara dalam jiwanya. Penyesalan dalam kesombongan yang membuatnya jatuh meluruh tidak lantas membuat semuanya berbalik.

Masih dalam kesombongan yang sama. Tidak perlu penyesalan yang lahir dalam sebuah ego.

Masih dalam kesombongan yang sama dalam setiap harinya. Mengaburkan rasa untuk dikuburkan. Tidak ada yang bergerak di luar sana. Anginpun bisu mengokohkan senja yang begitu di puja.

Monday, November 15, 2010

Ketika Dewa Bercinta

Angin berubah menjadi badai. Tubuh manusia yang secuil beras itu tidak mengetahui dewa Zeus sedang memuntahkan murkanya. Rasa haus akan wanita yang dimiliki Ares membuatnya malu. Satu per satu wanita didekatinya. Perseturuan antara Iris dan Afrodit menjadi puncak kekesalan dan gunjingan di kalangan dewa dewi. Zeus mengganjarnya dengan mengirimkan mereka ke Bumi.

Ares terlahir menjadi seorang dokter tampan yang baik hati. Zeus berharap hukuman ini membuatnya menjadi pria sejati. Matahari terbit yang menyembul dari pegunungan adalah awal kehidupan baru bagi Ares. Ia melamun dalam tubuh manusianya. "Dokter, ada pasien UGD" suara suster Hesti memecah lamunannya. Ia beranjak pergi tanpa menoleh. Suster Hesti yang ayu terdiam kecut. Seandainya Ares tau dia adalah Hestia yang sengaja mengejarnya ke bumi.

Blackberry yang sedari tadi berbunyi sama sekali tak diacuhkan sang empunya. Dita tersenyum nakal menggoda Ervan. Wajah cantik secerah bulan yang bersinar terang dibalik gelapnya malam tak henti-hentinya membuai angan Ervan untuk memiliki wanita ini. Dita pamit ke toilet. Beranjak perlahan dari sofa memakai bodycon hitam dengan rambut pekat panjang membuat siapapun yang melihatnya tak kuasa mengalihkan muka. Dita tersenyum malas dalam hati. Aku suka bumi, kecantikan seorang Afrodit tak hilang di tubuh seorang manusia sekalipun.

Di tengah cuaca panas hujan turun dengan derasnya, matahari yang kebingungan seketika melihat sesosok wanita yang sedang menangis mengangguk paham. Iris menengadahkan muka. Rindu akan pelangi yang mendamaikan hati.

Di kejauhan Ares melihat keanehan cuaca ini. Ia memejamkan mata menyampaikan pesan melalui batinnya.

"Iris itukah kamu yang menangis?"

"Ares? Itukah kamu? Tolong aku! Aku tidak ingin menjadi manusia, kembalikan aku ke langit. Bujuk Zeus untuk menjemputku! Aku takut disini" dengan panik Iris menatap sekeliling, berharap Ares ada disampingnya.

Ares yang ingin menenangkan Iris gusar, cepat-cepat ia menarik diri untuk menemukannya. Iris bertahanlah. Tak terasa Ares menggumam. Hestia yang mendengar merasa perih. Segera ia kembali ke dunia dewa dewi. Satu yang ingin ditemuinya, Hades. Dengan gigih akhirnya ia berhasil menemuinya. Meminta pertolongan agar ia bisa bersatu dengan Ares walau dengan cara hitam sekalipun. Hades menyetujuinya dengan satu syarat. Hestia menyanggupinya dan kembali ke bumi.

Kondisi Iris yang lemah menyulitkan Ares untuk mengetahui keberadaannya. Hestia yang awalnya merasa senang terlihat khawatir dengan kondisi Ares yang ikut menurun. Adaptasi tubuh manusia tak berpihak padanya. Hari demi hari Hestia merawat Ares yang melemah, membuatnya makanan yang beragam agar tubuhnya kembali kuat. Ares perlahan pulih, dalam tidurnya ia mendengar Hestia berdoa agar Zeus mengembalikannya ke langit. Dalam ruangan yang sunyi serta bisikan doa Hestia yang syahdu menenggelamkan perasaan Ares ke jurang cinta.

Iris yang sebatang kara tersesat di dalam hutan terkejut melihat sosok Hades. Hutan yang sunyi semakin kelam dengan keberadaannya. Hades tertawa sinis. Percakapan batin diantara mereka sangat sengit. Hades akan mengembalikan Iris dengan satu syarat, ia boleh menyetubuhinya. Dengan murka Iris berteriak sengit. Hades memberinya penerangan batin, memberinya cuplikan kehidupan Ares dan Hestia. Darah Iris seketika mendidih. Ia sudah jatuh terperosok. Dikhianati sedalam laut yang pernah didatanginya. Iris menyerahkan diri.

Di atas angin Hestia mengabdi pada Ares. Namun Hestia bukanlah wanita yang tamak yang mampu berlama-lama bersenang-senang di atas kesusahan Iris dan Afrodit. Ia mengaku di suatu Malam tanpa bintang. Ares yang tak siap mendengar ini semua hanya berdiam diri. Hanya terdengar rintihan burung hantu yang menangis pilu. Hestia menangis tersedu. Bersumpah untuk mendapat ganjaran hidup di bumi selama hidupnya.

Zeus yang melihat ini semua termenung. Mereka sudah memilih hidupnya. Sudah waktunya bagi Ares pulalng.

Ares yang menjadi pendiam menghadap sang penguasa langit. "Ubah aku menjadi patung dengan baju Zirahku!" pintanya. Zeus menjentikkan jarinya, terjadilah.

Wednesday, November 10, 2010

ELEGI

Terjebak dalam tubuhnya yang sedang tidur, Sean berkelahi dengan rohnya sendiri. Haruskah ia tetap di alam mimpi atau kembali ke dunia nyata? Roh Sean mengamati dunia yang teramat sepi dimalam hari, dentang jarum jam semakin meninabobokannya. Saat bermimpi ia selalu hidup sebagai Sean dalam hitungan mundur. Awalnya ia kira itu hanya mimpi. Malam berganti malam, akhirnya ia sadar bahwa itu kenyataan yang membingungkan. Sean tidak ingin bangun malam ini, ia teramat senang bisa melihat kembali istrinya yang menghilang secara tiba-tiba 13 bulan yang lalu. Sarah seperti seorang dewi. Dengan tatapan mata birunya yang teduh selalu membuat Sean merasa hidup. Gaun putih yang melambai membuatnya terlihat melayang. Angin menyibakkan rambutnya, ah tato peri di pundaknya membuat Sean berdenyut penuh nafsu. Sentuhan tangannya lembut sama seperti dulu. Sean menikmati rindu itu, mencium Sarah dengan penuh cinta. Kening, bibir, dan perlahan mulai turun ke lehernya. Sean bahkan masih terampil memainkan tangannya, melucuti pakaian Sarah dan menjamah tubuhnya..... Sean terbangun. Pelipisnya penuh peluh. Sarah begitu nyata. Rasa manis bibir dan harum tubuhnya masih sangat jelas. Pandangannya berpendar masuk ke dalam bayang masa lalu.

Sean berpikir ia mungkin menjadi gila, berhalusinasi di malam dan siang hari. Suara-suara tak terdengar memainkan peran dalam otaknya. Satu persatu kejadian masa depan bisa dilihatnya. Sean merasa ngeri dengan kelebihannya. Ia ingin ke Psikolog. Tapi ia terlalu takut mendapat jawaban yang tidak ia harapkan. Sean semakin murung. Malam hari ia merasa takut semakin mengecil. Ia bahkan semakin membenci siang. Kematian lalu lalang diotaknya. Bagaimana mungkin ia rela membiarkan pikirannya terjun bebas ke alam kematian dimana satu per satu orang-orang terdekatnya masuk di dalam alamnya.

Rabu, 13 Maret 1983

Sean melihat kematiannya sendiri 3 jam sebelum maut menjemputnya. Mimpi yang menghitung mundur dan hidup masa depannya yang semakin berkurang membuat Sean tersadar ia hidup dalam bayang-bayang. Menerimanya mentah-mentah sebagai budak yang dungu. Sean segera berlari ke parkiran. Ia sudah kehilangan satu jam hidupnya. Iriana. Dokter itu yang bisa membantunya. Serampangan Sean membawa mobil, terdengar klakson yang bersahutan mengeluarkan amarah. Sean sungguh tak memperdulikannya. Dinaikinya anak tangga dua dua. Diketuknya pintu. Tak ada sahutan. Sean tak mempunyai waktu banyak. Nafasnya tersengal. Ia segera membuka pintu itu, tak dikunci. Sean terhuyung menyusuri isi rumah. Dilihatnya Iriana yang sedang memunggunginya. Berdoa dihadapan rosario dengan tudung menutupi kepala.... "Iriana tolong aku" Sean mendekat, menggapai hampa tudungnya yang tersingkap. Tato peri itu sekelebat terlihat dalam penglihatan Sean yang memudar.

Tuesday, November 09, 2010

Apakah Tuhan Tahu Aku Ada??

Dira tak pernah membayangkan kematian yang begitu dekat tidak tampak menyeramkan dalam khayalannya selama ini. Dipikirannya Malaikat mautpun enggan untuk berbaik hati di saat kematian datang sekalipun untuk dirinya yang terbuang. Ia bersandar pada tembok sebuah toko yang tidak terlalu ramai, disaat terbatuk ia melihat sebuah bayangan. Dira tersenyum sinis, aku mati ditempat yang tak seharusnya, aku mati tanpa keluarga, mungkin aku mati pun tanpa sebuah nama. Apakah Tuhan tahu aku ada?? Aku sudah lama percaya bahwa Tuhan itu tidak ada. Kecuali ia mewujudkan mimpiku.

Malaikat maut segera menjalankan tugasnya. "Apakah aku akan dihidupkan kembali?" Ini bukan sebuah pertanyaan menantang, lebih pada harapan yang terselip dalam nada ego. Malaikat maut berhenti sejenak, ada negosiasi yang tercium dalam waktu tersebut. Ia mengantongi data kehidupan Dira secara utuh. Ia tahu apa yang harus diperbuat. Dengan tatapan penuh arti mereka tersenyum masing-masing. Malaikat mautpun segera menjalankan tugasnya.

Sore itu toko kelontong Pak Supri sangat ramai, bukan karena pembeli, tapi karena Dira mati. Tak ada yang tahu tentangnya. Tak ada yang tahu namanya. Dira benar-benar mayat tanpa nama yang akhirnya dikubur ala kadarnya. Sore beringsut. Terdengar suara tangis di malam hari, rintihan bayi terbungkus kain dalam sebuah dus yang dibuang ibunya dalam dinginnya cuaca. Dira hidup kembali. Tersenyum membagi cahaya yang siap menemani orang-orang terbuang seperti dirinya di masa lalu dalam kerlip bintang. Jangan bersedih adik kecil, tataplah aku dalam sedihmu!!

Sunday, November 07, 2010

Gadis Berambut Kemoceng

"Hei gadis berambut kemoceng, kamu sudah datang"

Sapaan khas kakek membuatku tersenyum. Ia hanya ingat aku, si gadis berambut kemoceng yang suka berbagi cerita hidupnya, bukan cucu yang sangat senang kalau Sabtu tiba untuk mengunjungi kakeknya.

Di suatu sore 2 bulan yang lalu, Kakek di vonis menderita Alzheimer. Penyakit ini semakin membuatnya terlihat tua. Terkadang ia marah tanpa sebab, pikunnya membuat kami sekeluarga bersedih. Satu persatu keluarga tak dikenalinya. Aku lebih suka mengunjungi kakek sendirian, menemaninya di pagi hari setelah aku berolahraga.

"Nenek cantik ya, ia awet muda tidak beruban dan keriput seperti aku" ia terkekeh mengajakku duduk disampingnya. Suster Inne yang ramah memakluminya, ia pamit meninggalkan kami berdua. Kakek cemberut ketika Suster Inne pergi. Aku memegang tangannya, membelainya menenangkan. Ia menatapku, aku tersenyum lalu memeluknya. Kakek memintaku untuk memotret dirinya lagi, berdua denganku. Ia memberi lihat hasil foto yang 2 minggu lalu aku berikan. Dengan bangga ia menunjukan sisi belakang foto, disana tertulis dengan rapih: Gadis Berambut Kemoceng. "Nenek yang menuliskannya untukku" Kakek berbisik lalu cepat-cepat memasukan fotonya di kantong jaketnya. Aku terharu menahan tangis, memegang tangannya kembali bercerita. Entah apa Kakek mengerti dan akan tetap ingat ceritaku aku tak perduli. Aku selalu merasa lega setelah bercerita semua masalahku padanya. Tak terasa matahari sudah menanjak di atas kepala kami, Kakek merasa sangat lelah dan lapar. Aku menggamitnya berdiri. Aku sampai hapal suster Inne dan Donepezil seperti satu kesatuan, Kakek tidak mau minum obat kalau bukan "Nenek" yang memberinya. Ia selalu berhasil membuatku tersenyum. Akupun pulang setelah ia tertidur.

Sabtu ini aku kembali dari Dubai khusus untuk mengunjungi kakek. Pekerjaan aku tinggal sementara waktu. "Maaf Kek aku baru sempat datang". Aku terisak, tak lagi perlu menahannya. Lalu aku menebarkan bunga dan tak lupa menaruh foto baru yang seharusnya sempat Kakek lihat diatas pusaranya. Ibu lalu memelukku, "Zev.. Suster Inne memberikan ini ke Mama" disodorkannya sebuah foto dengan tulisan di sisi belakang: si Gadis Berambut Kemoceng.

Saturday, November 06, 2010

Karena Mey Hong

Aku bersembunyi di balik lemari, ini malam pertamaku. Seharusnya ini adalah malam yang indah untuk pasangan suami istri baru. Terkecuali untukku yang diperistri seorang pria lapuk gendut. Ranjang besi yang menjadi tempat tidur pengantin kami berderit, jantungku mulai berdetak tak karuan. Lemari yang sempit ditambah baju ala pengantin Cina ini seakan mencekikku. Ko Hong mulai celingukan ketika kulihat dari pintu lemari. "Meeeeeyyyy....." Ko Koh memanggilku merdu. Kali ini rasanya perutku sedang berakrobat, berjumpalitan membuat benang kusut. Ranjang kembali berderit diikuti suara gesekan sandal. Aku kembali mengintip, kini rasanya aku seperti mau mati, Ko Koh melewati lemari. Aku bergerak tak sengaja membuat gaduh. Pintu terbuka. Ko Hong membelalak melihat aku di dalam lemari. Aku terkejut. Benar-benar pingsan.

9 bulan kemudian....

Persalinanku memakan waktu yang cukup lama. Keringat sebesar biji jagung turun satu persatu dari pelipis si gendut. Ko Hong menggenggam tanganku khawatir... Ia terus berbicara dalam bahasa Cina Kantonnya yang kental. Terkadang aku mencair melihat Ko Hong yang penuh cinta. Tapi aku sebal, ia seperti memperkosaku saat aku jatuh pingsan di malam pertama kami. Kehidupan selama 9 bulan ini penuh warna. Ko Hong yang begitu dewasa tampak merasa bersalah. Aku yang masih muda dikuasai oleh emosi yang menggebu. Di awal pernikahan aku begitu manja, menyuruhnya kesana kemari untuk membeli berbagai keinginanku. Terkadang aku tertawa melihatnya penuh dengan keringat, badan gendutnya memerah menahan lelah.

Sore ini lahirlah putri cantik kami. Aku menyusuinya berseri. Dengan bibir semerah buah ceri ia menyusu di dadaku yang ranum. Rambutnya yang hitam pekat sangat lebat. Ko Hong yang tak berani mendekat hanya berdiri di sudut ranjang memperhatikan kami. Aku dan putri mungilnya. Buah cinta kami. Pada detik itu aku melihat Ko Hong sangat bersinar. Bukan karena perut gendutnya. Karena hatiku mulai bergetar setiap kali ia menatapku penuh kasih. Aku menitikkan air mata. Kini aku tahu, Opa menjodohkanku dengannya karena satu hal. Ko Hong orang yang sangat baik. Aku tersenyum memintanya mendekat. Ko Hong terbelalak. Ia mendekat. Menitikan air matanya saat menyentuh bayi mungil kami, lalu ia berkata sambil mentapku pasti, "Mey Hong cantik seperti Ibunya".

Friday, November 05, 2010

Hari Baru

Bunga kecil menangkap sesosok wanita cantik yang sedang berjalan menuju sebuah cafe di sudut jalan. Ia terlihat sibuk setelah memarkir mobilnya, menerima sebuah telepon sambil membawa tas cantik dan sebuah bungkusan yang dibungkus apik. Wanita itu terlihat mahal di mata Bunga. Punggungnya perlahan hilang dibalik pintu cafe. Menenggelamkan pemandangan indah di sore itu. Tapi tak lama ia muncul kembali, pintu cafe terbuka memperlihatkan wajah cantiknya. Ia berjalan santai ke arah mobil sambil membawa segelas minuman. Rambut lurusnya dibentuk ponytail yang diikat tinggi-tinggi. Matanya dilindungi kacamata hitam yang membuatnya semakin terlihat keren. Terusan hijau botol membalut tubuhnya yang putih semakin membuatnya bersinar. Serupa model yang ia lihat di majalah. Wanita yang menarik. "Cantik seperti Kak Rose". Tak terasa Bunga menggumam sendiri.

Bunga menerawang mengingat minggu lalu, hari dimana ia pergi dari rumah setelah melihat Ibu dan kakaknya di bawa paksa oleh majikan Ibu yang seorang renternir. "Lebih baik aku jual kalian untuk membayar hutang-hutangmu yang segunung". Tuan Sigit mendorong tubuh Ibu yang lemah. Ibu menangis memohon agar Kak Rose tidak ikut dibawa. Wajah cantiknya dipenuhi air mata. Ia mencoba berontak. Kak Rose yang malang. Ia di pukul sampai pingsan oleh kaki tangan Tuan yang mengerikan itu. Bunga hanya bisa mengintip dari balik tempat tidur. Yang ia yakini adalah Ibu berteriak memberinya isyarat menyuruhnya pergi dari rumah yang biasa mereka tinggali secepatnya. Ayahnya yang pergi mengadu nasib ke luar pulau belum terdengar kabarnya 2 tahun ini. Bunga menangis terisak di depan sebuah etalase toko.

Tak lama Bunga mendapati dirinya sedang asik melihat sepasang Kakek dan Nenek yang sedang berjalan bergandengan menuju ke arahnya dibalik senja yang mulai turun. Mereka berjalan dalam diam. Sesekali mereka beradu pandang dengan tatapan penuh cinta. Bunga tak bisa menahan rasa penasarannya. "Dimana anak dan cucu kalian?". Kakek dan nenek itu tersenyum. Sang nenek mengusap air mata Bunga yang belum kering. "Kami tidak punya. Kamu jangan menangis! Tuhan sedang merencanakan kabar bahagia untukmu". Mereka lalu memberikan senyuman paling manis yang pernah Bunga lihat sepanjang hidupnya. Merekapun berlalu dari pandangannya.

Malam menjemput. Bunga tak menyukainya. Pekatnya semakin membuatnya bersedih. Tapi ia bersumpah pada dirinya untuk tidak menangis lagi. Bunga yakin Tuhan akan memberinya rasa bahagia. Seminggu ini ia bertahan hidup membantu mencuci piring-piring seorang Ibu pemilik Warteg tanpa diberi upah. Bisa makanpun cukup pikirnya. Sore hari ia hanya berjalan-jalan berharap bisa bertemu orang-orang terkasihnya. Dipungutnya koran yang sengaja ditinggal oleh seorang wanita di halte bis. Kepandaian Ibu yang membuatnya bisa membaca seperti sekarang. "Hahahahahhaa seperti orang dewasa saja kau membaca koran". Pedagang asongan itu menertawainya. Bunga hanya mengerutkan kening. Mungkin benar apa yang pedagang itu bilang. Mungkin ia orang dewasa yang terjebak dalam tubuh seorang anak kecil. Menyusuri jalanan yang gelap Bunga menenteng koran yang tadi dibacanya. Kebiasaan seminggu ini mencari koran/kardus bekas sebagai alas tidurnya di Stasiun Kereta Api.

Malam sudah sangat larut seingat Bunga ketika Ibu membangunkannya. Ia menarik tubuh Bunga lalu memeluknya. Wajah Kak Rose yang pucat tersenyum hangat membelai tubuhnya. Bunga seketika menangis memecah malam. Ia menciumi Ibu dan kakaknya. "Maafkan kami baru menjemputmu, kami harus menyelesaikan beberapa urusan" Ibu tersenyum getir memeluknya dan kak Rose.

Esok paginya Bunga sudah duduk di dalam kereta menikmati pemandangan kabel listrik, rumah dan sawah yang silih berganti. Ia senang sekali dengan ide Ibu yang mengajaknya pindah ke luar daerah. Rasa lelahnya menyebabkan kantuk. Tangan kecilnya menggenggam tangan Ibu. Kak Rose memandanginya. Ibu tersenyum penuh arti. Ya Bunga. Kami butuh waktu seminggu untuk menyingkirkan Tuan Sigit. Dipeluknya erat tas yang penuh berisi uang. Sudah saatnya kita pindah dan menjemput hari baru bisiknya.

Wednesday, November 03, 2010

Tanya?

Dengan angin yang mematahkan sunyi.... membisikan sesuatu yang tak ia mengerti

Lentik jariku yang merangkai rindu
Dengan mata yang membentuk bulan sabit, memandang sosoknya dalam sebuah foto

Implisit dalam sebuah tanda tanya....

Koma sudah ribuan kali mempecundangi sebuah titik

Sampai kapan ia berhenti di penghujung penantianku?

Wednesday, October 27, 2010

Rectoverso

Malam tadi aku baru membaca buku ini. Tidak ada niat yang terlalu tinggi untuk membacanya, apalagi tanda-tanda akan menangis. Aku hanya tau buku ini kumpulan dari 11 cerpen. Rectoverso. Dua citra yang terpisah namun dalam satu kesatuan. Baru saja menginjak kertas halaman 6. Aku menitikan air mata. Bayangkan saja betapa cengengnya!

Curhat Buat Sahabat. Ini seperti menyodorkan cermin ke wajah sendiri. Untuk kedua kalinya aku melakukan kebodohan yang sama. Dia yang seharusnya mendapatkan limpahan kasih sayang. Dia yang mampu memberi segelas air dikala sakit. Yang mampu melakukan apa saja untukku. Dia bukan Pembantu. Tapi hati dia untukku.

Aku tidak ingin menyebutkan sebuah nama. Tak ingin dikasihani untuk mendapat empati. Aku hanya patut mendapat ganjarannya. Melihatnya menanti Pelangi lain.

Aku disini berdiri dalam diam. Mengamati. Selalu berharap hujan menyampaikan rinduku untuknya. Memunculkan Pelangi untuk memberinya tanda. Sekali lagi aku hanya diam. Cintaku tanpa kata. Aku bukanlah William Shakespeare yang pandai menyairkan sajak Burung Bul bul. Dalam doa. Yang aku butuhkan hanya dia. Orang yang menyayangi aku.... dan segelas air putih :)

Sunday, October 24, 2010

KAPAN? (Kapan-kapan deh ya!)

Sudah ratusan status yang saya baca di Twitter ataupun FB bilang bahwa mereka bosan ditanya Kapan (nikah)?
Buat orang-orang yang punya kebiasaan jelek bertanya Kapan, PLEASE STOP TO ASK THIS SILLY QUESTION!!

Kapan Kerja?

Ya ampun, sengsara banget ya kalau banyak yang nanya gini, belum lagi kalau keluarganya cerewet malah marahin. Tolong pengertian, bukan berarti mereka itu tidak berusaha, ungkapan: Jaman Sekarang Cari Kerja Susah itu benar adanya. Kecuali kalau itu orang memang kerjaannya cuma tidur-tiduran melulu plus main game terus tanpa menghasilkan uang, boleh ditanyain, dimarahin lebih disarankan. Kalau yang sudah berusaha dikasih semangat dan dibantu untuk lowongan kerjanya.

Kapan Nikah?

Taukah kamu setelah saya mengamati dari berbagai cerita dan pemberitaan, ada beberapa hal yang bisa saya kasih pendapat. Saya heran kalau nonton acara-acara gosip (yang seperti biasa bakal langsung dikomentarin pedes), kok artis masih muda yang umurnya belum sampai 20 aja sudah ditanyain kapan nikah? Booooo mereka aja pacaran masih dalam itungan bulan kali, jaman saya seumur itu masih cinta monyet, masih belum kepikiran bakal nikah besok juga. Contoh konkretnya sebagai reminder adalah pasangan yang dulunya pacaran dan selalu ditanya-tanya: Adli Fairuz dan Sheeren Sungkar *ceeiillee gue up to date juga yak gosipnya, katanya kaga suka gosip?? nyihihihiii* Kasus lain yang paling penting adalah, kalau memang kita sudah saatnya menikah, apalagi perempuan yang umurnya sudah di atas 23 pasti sudah sering ditanya oleh orang-orang disekitar anda. Mulai dari di undangan, teman sekantor, tetangga, keluarga besar sampai ke tukang baso langganan, lengkap banget pada pengin tau. Memang gak salah kalian nanya, dan saya tau kalian ingin melihat saya/kami yang belum menikah ini bisa merasakan indahnya berumah tangga *ihhiiyy udah kayak Ibu-ibu yak* Tapi kalian sadar gak kalau kita sebenarnya sudah capek dengan pertanyaan yang itu-itu aja? (salahnya kenapa kaga cepet-cepet nikah?? Yeeeee maunya sih gitu). Lebih parah kalau yang nanyanya kamu lagi (lagi-lagi) kamu, atau ditanya sama orang yang sama-sama belum menikah. Sepertinya saya pernah bahas ini di judul yang lain ya, intinya kita memang belum dikasih, belum waktunya. Jangan selalu bertanya pertanyaan ini dong, kami-kami ini mau menikah, tapi gimana? Kami si (yang katanya) perawan tua dan bujang lapuk tersayat loh dengan pertanyaannya kalau keseringan.

Kapan Punya Anak?

Seperti biasa, pertanyaan ini maksudnya adalah doa, tapi untuk yang sudah menikah pertanyaan ini menyakitkan sekaligus bencana. Tolong yang punya mulut, hati, dan pikiran mulai di jaga ya. Pertanyaan ini sangat sensitif soalnya, kalau sudah berumah tangga bisa jadi masalah, padahal mereka inginnya ya punya anak. Contohnya: saya punya temen, sebenernya mereka lumayan santai, pikir rasionalnya adalah ya bagaimana dikasihnya saja... Tapi karena banyaknya pertanyan dari si ini dari si itu dia jadi kepikiran, malah buat stress sendiri, sudah datang kemana-mana, berusaha lebih intinya, belum dikasih juga, dan dia bilang kalau dia sudah capek ditanya, sakit juga ditanyain terus. Sekali lagi buanglah rasa ke-Kepo-an kalian, cukup berdoa dalam hati.

Kalau kalian sudah baca ini dan masih juga suka bertanya pertanyaan-pertanyaan diatas berkali-kalu itu tandanya kalian keterlaluan! Mulai biasakan untuk menjaga perasaan orang lain ya. Menjaga dan Selalu membuat senang orang lain itu beda konteks.

Saturday, October 23, 2010

Koneksi Siapa?

Baru saja tadi teman di twitter bilang kalau dia gemes sama orang yang mengajukan pertanyaan seperti di atas. Siapa sih yang gak sebel??? Menurut saya orang yang bertanya hal seperti itu adalah orang yang sok tau dan mau tau urusan orang lain, alias SOTOY dan KEPO kalau bahasa jaman sekarang. Kalian tau betapa gak sopannya kalimat tersebut, negatif banget sih punya pikiran, secara gak langsung itu sudah mewakili kepribadian si Penanya loh, berarti dia suka ngelakuin koneksi ya??? Kenapa gak buat pertanyaan yang lebih masuk di akal, positif thinking, kamu bisa kan buat pertanyaan lain: susah gak masuk kesana? Syaratnya apa aja? Saingannya seperti apa? Atau kamu bisa buat statement aja: wah alahamdulillah ya, rezekinya disana. Jangan lupa kasih selamat.

Kenapa saya sebut pertanyaan itu gak sopan? Coba ditelaah lagi, sebagai orang yang (katanya) berpendidikan kok berani-beraninya bertanya seperti itu, wajar dong orang masuk suatu perusahaan, kalaupun secara kasat mata kamu berpikir kayaknya dia gak mungkin bisa masuk, siapa tau kan perusahaan tersebut memang membutuhkan tenaga kerja. FYI yang namanya ilmu yang di dapat di bangku sekolah itu hanya sepersekian persen yang dipakai, lainnya adalah kemampuan daya tangkap kamu untuk bekerja dan mau berusaha. Gak sopan karena kamu gak menghargai usaha orang lain, orang yang punya niat bisa masuk, berusaha dalam setiap test terus kamu jatuhin begitu aja dengan pertanyaan bodoh: ADA KONEKSI?? Haalloowww.... Sadar lah pertanyaan itu cuma pantas diajukan buat orang yang punya pikiran dangkal yang gak percaya akan kemampuannya sendiri. Segala sesuatu dengan niat, doa dan usaha bakal kecapai kalau kamu mau, kalau belum berhasil jangan patah semangat, dan jangan jadi underestimate sama orang2 yang bisa masuk di dalamnya, takdir itu sudah ada yang mengatur bukan? :) Bagi yang ditanya, boleh pasang muka isyarat: HALLO, Loe Hidup Dimana Sih??? Kalem aja alias santai, biar disibuk menerka-nerka, biar aja dia sibuk dengan iri hati dan sibuk bergunjing, yang penting Man Jadda Wa Jada dan Man Shabara Zafira ;)

Monday, October 11, 2010

Ketika dan Kalau (Terjadi)???

Kalau dikasih kesempatan balik lagi ke masa lalu dan memperbaiki / menikmati suatu moment, bingung pilih yang mana....
::: Jawaban paling idealis adalah saya gak perlu kembali ke masa lalu, karena masa lalu membuat saya kuat seperti sekarang. Ah lupakan kalimat perfeksionis seperti itu, saya manusia biasa yang mempunya pikiran liar ini dan itu. Saya ingin kembali ke masa-masa SMP yang penuh suka-cita-duka, semuanya lengkap. Ada banyak yang bisa dinikmati ulang, dan ada juga keadaan yang bisa diperbaiki :) 

Kalau dikasih kesempatan satu hari melihat atau "menyontek" masa depan, milih di umur berapa ya?? Apa yang bakal dilakuin?? saya tau :)
::: Kalau dikasih kesempatan untuk nyontek masa depan, saya pilih umur 35 Tahun, kenapa?? Sepertinya saat itulah umur yang tepat untuk dicontek: Siapa suami gue yaa?? Anak gue seperti apa?? Eh gue udah nikah belum sih?? Karir?? Udah punya apa aja ya?? Anggota keluarga yang lain gimana ceritanya?? Temen-temen gue apa kabar perkembangannya?? 
Hahahahhaa ini seru sekali, kalau sampai ini terjadi bisa dipastikan ketika kembali ke masa sekarang saya langsung bertanya ke mbah google mengenai profile si Suami-di masa-mendatang :D 

Kalau dikasih kesempatan bertemu Tuhan, saya tau kalau saya sudah tenang berada disisi-Nya :)
::: Huaaaaaaa kok serem juga ya pengandaiannya, siap-tidak-siap semua manusia pasti akan "kembali" Entah saya akan ada di Surga (amin) atau Neraka (Naudzubillah) saya tenang, kenapa?? Saya hanya bertanggung jawab terhadap Allah Maha Pencipta, Saya ingin memeluk-Nya, entahlah apa raga ini sanggup memeluk-Nya?? 

Ketika berusaha idealis untuk kebaikan tapi kamu menahan rasa sebaliknya, seperti orang munafik tapi kamu menang :)
::: Terkadang saya punya punya pikiran seperti ini: "Ih sepertinya enak ya kalau begini...begitu..." tapi mungkin kalau di fim-film sudah terjadi adegan le-to-de-bay disebelah kanan Angel dan sebelah kiri Demon sedang berseteru, ini baik ini tidak baik, akhirnya si Angel lah ang memenangkan drama tersebut. Contoh: Kayaknya enak ya kalau di Tato, keren... >> Tau sendiri dong apa jawaban dari si Angel?!! Akhirnya sampai sekarang dan kemungkinannya ke depan setiap inchi tubuh saya tidak akan ada tato permanen kecuali temporary tattoo :p 

Ketika #cintamembuatmubuta jealous sama sahabat sendiri, hayoooo ngaakkuuu!!! :P
::: Aduh boleh skip pertanyaan ini gak?? Hahahahahaa wajar (kayaknya) ya kalau pernah merasakan ini, pernah lah, tapi sudahnya saya seperti minta di toyor atau disiram air es ;p
 
Ketika kamu sadar tidak terlalu dekat dengan Tuhan dan kamu banyak permintaan dan menahan rasa untuk menyalahkan-Nya...
::: Tidak terlalu dekat dan banyak permintaan iya, tapi kalau menahan rasa untuk menyalahkan-Nya?? TIDAK!! Ngga berani punya perasaan seperti ini.  

Ketika dan Kalau kamu disukai pria yang sudah beristri lebih dari dua orang?? Kamu yang salah atau....???
::: Hmmmm.... Pernah! Jumlahnya? Gak tau dan gak mau tau! Saya yang salah atau...... Dianya kegatelan?? Nah itu dia tergantung persepsi, saya merasa tindak tanduk saya wajar, tidak menggoda, kalau saya terlihat penampilannya menarik masa itu disebut menggoda???

Ketika kamu merasa lelah untuk berbuat baik...
::: Saya tidak pernah merasa lelah untuk berbuat baik, tapi saya muak kalau orang-orang merasa paling benar dan menuntut ini dan itu.
 
Kalau di beri kesempatan Reinkarnasi nantinya???
::: Sampe sekarang belum kepikiran, hmmm mungkin dengan otak pintar Ibu Sri Mulyani, Muka Dian Sastro, sifat selembut Lady Diana :D *sisiran takut banyak yang naksir*

Ketika dan Kalau kamu suka sahabatmu sendiri?? | via: @adelliarosa cc: @naishakid
::: Wkwkwkwwkkkk... gimana ya??? ya gimana??? Jangan deh atau boleh deh jawabannya :)

(Cerpen) Suatu Sore Di Jogja Yang Terkenang

Sore itu dengan dipayungi cuaca yang berawan, diantara jalan yang ramai bermotor dengan santai, apakah kamu merasakan hal yang sama? Senang?

"Hei itu Mirota, mampir yuk!" dan kamu menjadi korban ku, 1/2 jam lebih kamu menunggu. Dgn wajah kbingungan aku mencarimu, ah kau tersenyum.

Dengan perasaan bersalah aku merajuk manja, "maaf lama yaaa..." kau memaklumiku sebagai perempuan :) "Ayo kita ke pohon beringin kembar itu"

Aku tertawa renyah... "Kamu jadi kesana, ayoooo" | sepanjang jalan kau membawa motor dengan lambat, aku berdoa agar waktu tak melaju cepat..

Aku hanya mampu memegang kaos kuningmu sebagai pegangan, tak apa ya... Selain tak terdengar jelas, sengaja aku sedikit dekatkan kepala...

Apakah ini perasaan yang sama? Tangan mu kau istirahatkan di atas dengkul ku yg berdekatan saat lampu merah bersekutu dengan waktu dan kita.

Sampai sore itu habis aku tetap berdoa, Tuhan mohon lambatkan waktu, akankah ia pulang sebelum menjemput malam? Cemasku sirna...

2 jam yang aku punya dan harus berbagi dengan kakak ku?? Sudahlah kita harus mulai terlihat seperti teman biasa, atau memang biasa?

3 jam setelah pamit aku seperti terjaga mendengar suara pesawat yang lewat, "apakah itu kamu gendut?"

Seminggu berlalu dgn sms & telepon, YM yg kau kirim membuat ku haru, "Kamu manja, aku tau walau kamu bilang ngga. Sore itu aku perhatiin kamu"

Satu hal yg buat aku sedih, "Jangan panggil aku gendut" | "kenapa, kan bukan maksud menghina" | "lebih baik jangan..Terlalu mesra, takut nanti ksengsem"

Genduutt.. Kita merasakan hal yg sama, ingin mempecundangi kenyataan, perbedaan yg trlalu prinsipil. Sekali lagi harus ada jiwa yg terlepas.

Biar ini seperti air, berteman dengan rasa yang dipertaruhkan. Tuhan tolong jaga jiwa kami masing2 agar tak terpuruk & berpaling dari-Mu. 

Sunday, October 10, 2010

Sayap Yang Patah

Berbisik mengikuti akal dan memunggungi hati, Tuhan.... Aku kembalikan perasaan ini.

Friday, October 08, 2010

Tentang Rasa

Saat rasa itu menjemput, kenapa rasa takut ikut???
Saat logika terlalu mendominasi, cinta terasa basi...
Saat hati akan bersauh, dermaga terlalu jauh...

Seperti peluru yang terjebak dalam senapan, terlalu takut untuk salah sasaran. Hidup berkarat sampai waktunya tepat ditembakkan.

Hujan bergemericik menenggelamkan lamunan, mengayunkan kenangan mencampuradukan perasaan.

Harus sekuat apa lagi hati ini terbuat?? Tuhan kuatkan aku tetap tersenyum. Kau peluk aku dengan perasaan ini (lagi), menyeretku untuk sabar yang tak berbatas. Aku siap bila dia bukan permintaanku untuk yang "terakhir".

Tuhan, terimakasih untuk perasaan ini :)

Karimun Jawa Yang Eksotis

Melepaskan diri sejenak dari rutinitas yang ada, menghabiskan weekend bersama teman-teman baru dalam suasana baru, membaur dengan kebersamaan, menyatu dengan alam, mencoba setiap tantangan, menjadikan setiap langkah kaki sebagai sarana untuk menyegarkan pikiran, tak ada salahnya dicoba.

Berapa hari sebelumnya, saya melakukan perjalanan jauh ala (semi) backpacker ke luar Jawa Barat untuk pertama kalinya, tepatnya ke Karimun Jawa – Jepara. Mungkin tempat ini belum banyak yang tahu, begitupun dengan saya awalnya, sampai akhirnya saya diberi kesempatan dan mempunyai waktu liburan kesana. Berikut saya saya membagi informasi tentang tempat ini, beberapa saya kutip dari mbah Google :D

Karimunjawa

Karimun berasal dari bahasa Jawa yaitu kremun yang artinya kabur atau samar-samar. Diberi nama tersebut karena kepulauan ini terlihat samar-samar dari Pulau Jawa yang disebabkan letaknya yang cukup jauh dari Pulau Jawa. Untuk mencapai Karimunjawa memakan waktu sekitar 4 sampai 6 jam dari daratan Pulau Jawa dengan menggunakan Kapal Motor Cepat dari Semarang atau Jepara. Rasanya, cocok dengan namanya, karena memang memakan waktu yang cukup lama untuk tiba di pulau ini.

Kepulauan Karimunjawa menjadi surga dari para penyelam (diver). Anda dapat melakukan berbagai kegiatan di dalam jernihnya air. Berenang, menyelam (diving), atau snorkeling akan terasa menyenangkan.
Keindahan terumbu karang serta ikan berwarna-warni di dalam laut akan menjadi daya tarik untuk bermain-main di dalam air. Air laut di Karimunjawa sangat jernih dan bening, sehingga Anda bisa melihat dasar laut dengan jelas. Bagi Anda yang hobi memancing, Anda juga bisa melakukannya di beberapa pulau di Karimunjawa.

Untuk mengunjungi pulau-pulau yang ada di Karimunjawa, Anda bisa menggunakan perahu nelayan. Waktu yang diperlukan tidak terlalu lama untuk mengunjungi beberapa pulau sekaligus karena letaknya yang tidak berjauhan. Ada pula perahu yang dilengkapi dengan kaca pada bagian bawah perahu (glass bottom boat) yang cocok bagi Anda yang tidak ingin menyelam tetapi ingin tetap dapat melihat terumbu karang atau ikan-ikan di dalam air laut.

Kepulauan Karimunjawa
Karimunjawa sejak tahun 2001 memiliki nama resmi Taman Nasional Karimunjawa. Taman Nasional Karimunjawa terdiri atas gugusan 27 buah pulau kecil dengan 5 buah pulau yang sudah berpenduduk di kepulauan ini.

Pulau yang sudah berpenduduk yaitu Pulau Genting, Pulau Kemujan, Pulau Karimunjawa, Pulau Nyamuk, dan Pulau Parang. Sebagian besar pulau di sana memiliki pantai dengan pasir putih.
Pulau-pulau yang menjadi favorit untuk dikunjungi para turis karena keindahan alamnya antara lain Pulau Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Cemara Kecil, dan Tanjung Gelam. Ayo kita kunjungi pulau-pulau tersebut satu per satu!
     
·    Pulau Menjangan Besar
Di Pulau Menjangan Besar terdapat penangkaran ikan hiu. Anda dapat menguji keberanian dengan masuk ke kolam penangkaran mereka dan berenang bersama ikan-ikan hiu ini. Tidak perlu takut, karena hiu di sini cukup jinak dan bersahabat dengan manusia.

·    Pulau Menjangan Kecil
Pulau Menjangan Kecil pantas dikunjungi karena di perairan sekitar pulau ini terdapat banyak ikan kecil berwarna-warni yang cantik. Pulau ini memiliki pantai dan dasar laut yang indah dengan air yang jernih. Pulau ini cocok bagi Anda yang ingin mencoba snorkeling.

·    Pulau Cemara Kecil dan Pulau Cemara Besar
Pada kedua pulau ini terdapat banyak pohon cemara yang mungkin menjadi dasar nama kedua pulau ini. Hal unik lainnya adalah adanya daratan pantai dengan pasir putihnya yang menjorok ke laut.
·    Pulau Tanjung Gelam
Pulau Tanjung Gelam merupakan pulau yang indah dengan hamparan pasir putih dan air laut yang berwarna hijau kebiruan.

Transportasi ke Karimunjawa

Untuk menuju Karimunjawa, Anda dapat menggunakan beberapa alternatif pilihan berikut ini:

·    Kapal Cepat dari Semarang
Dari Semarang, Anda dapat pergi ke Karimunjawa melalui Pelabuhan Tanjung Emas dengan menggunakan kapal cepat. Perjalanan dari Semarang ke Karimunjawa sekitar 4 jam hingga 6 jam jika cuaca buruk.

·    Kapal dari Jepara
Jika Anda memilih pergi ke Karimunjawa dari Jepara, Anda dapat melalui Pelabuhan Kartini. Anda bisa memilih menggunakan kapal cepat, atau juga menggunakan kapal yang lambat dan murah dari Jepara. Perjalanan dari Jepara ke Karimunjawa sekitar 2,5 hingga 3 jam.
Menikmati keindahan pulau ini dan merasakan ketenangannya akan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Dianjurkan untuk mengunjungi pulau ini pada bulan Maret sampai Oktober, pada saat itu cuaca sedang bersahabat sehingga Anda dapat leluasa menjelajah dan menikmati kepulauan Karimunjawa. Nikmati pesona keindahan alam di Karimunjawa.

-- O O - -

Itulah pengenalan mengenai Karimun Jawa, yang bisa saya infokan adalah mengenai prakiraan biaya yang akan kamu keluarkan bila berkunjung kesana. Karena saya ikut paket tour ala backpackernya Explore karimun Jawa: http://www.facebook.com/explore.karimunjawa#!/explore.karimunjawa saya pilih fasilitas Homestay seharga Rp. 550.000,- untuk 4 hari 3 malam. Ada juga paket backpacker seharga Rp. 475.000,- saya sarankan lebih baik memilih fasilitas Homestay Karen tempat tidur nyaman hanya untuk berdua sampai tiga orang tidak bejubelan dengan yang lain. Paket tour Eksplore Karimunjawa ini mulai dihitung dari Jepara, jadi bagi kita warga Pupuk Kujang harus mengeluarkan ongkos transportasi untuk ke Jepara. Berikut Rinciannya:

Bis Keramat Jati Bandung – Semarang    : Rp  180.000,- (Pulang-Pergi)

Bis Semarang – Jepara            : Rp.   10.000,- (Pulang-Pergi)

Makan di Pelabuhan Jepara (±)        : Rp.   20.000,- (Pulang-Pergi)

Paket Tour    : Rp. 550.000,- (all in makan, penginapan, alat snorkeling, dll)

Total      Rp. 760.000,-

Untuk biaya lain-lain seperti oleh-oleh dan jajan pribadi yang biasanya dilakukan di Karimun Jawa tidak akan menghabiskan biaya yang mahal, makanan disana murah meriah dan kebetulan untuk oleh-oleh Karimun Jawa tidak terlalu beragam, yang terkenal hanya Kayu Dewan Daru, jadi kalau ada yang minta bawa oleh-oleh sila bawa Pasir Pantai Putih Karimun Jawa saja bila kamu bingung (ini benar tidak banyak pilihan). Jadi kalau saya simpulkan untuk biaya ke Karimun Jawa ditambah oleh-oleh bias membawa uang Rp. 1.000.000,- cukup. FYI: Pulau paling indah menurut saya adalah Pulau Cemara besar, Subhanallah!!! AMI  :)
Ini dia Link Foto-fotonya:



Tuesday, September 21, 2010

Tarian Hujan

Jutaan tetesan air yang jatuh seakan pertanda bahwa bumi sedang menangis, sedari kecil aku menyukainya, namun tidak diselingi amarah. Petir adalah puncak dari kesedihan bumi, ia menggerutu, ia marah sambil menangis.

Dibawah guyuran hujan aku menari, ini seperti menertawakan kesedihannya, entahlah aku bahagia. Terkadang aku ikut menangis dibawah hujan, agar tidak ada yang tahu bahwa aku bersedih, tapi hari ini aku menjelma sebagai manusia seutuhnya, suka cita dibawah kesusahan. Boleh kan?? Tuhan bukan aku yang salah, aku hanya menikmati hujan ini.

Monday, September 13, 2010

wanita yang dicintai suami ku.. ( Ni dpt dr tmn ku.. sampe nangiiiiiiiiiisssss bacanya hiks )

Copast dari Note Facebook aku di 2009.

by Laksmi Utami Nul Ansar on Friday, September 4, 2009 at 4:02pm
wanita yang dicintai suami ku.. ( Ni dpt dr tmn ku.. sampe nangiiiiiiiiiisssss bacanya hiks )
Share
Thursday, May 7, 2009 at 4:15pm



Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,

" Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh... dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan....aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta , aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, " Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?"

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,

Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.

yours,

Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

**********

Setahun kemudian...

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

" Mario, suamiku....

Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku. .. Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku.....

Ternyata aku keliru.... aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.

Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, " kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?"

Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.

Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu,

Rima"

Di surat yang lain,

".........Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha...... "

Disurat yang kesekian,

".......Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.

Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan , aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah.. .....

Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya.. ......"

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya... dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini...

"........... ...Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,

Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?........."

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

" Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi...... aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante..... aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak.... .." Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar.... Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku....

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

Jakarta, 7 Januari 2009 (dedicated to my friend....may you rest in peace...)
Best Regards,
TiNi

(utk temen2 yg memang mo copy, silahkan...



P.S: smuanya gada yg ditambah atow dikurangi sesuai judul & isi..

Suka Lagu (Tentang) Apa?

Ini adalah judul yang sama yang aku ambil dari blognya @mbakdos, menarik juga, kinda playing a new game. Kamu ditugasin memilih 4 lagu, ambil lirik yang kamu suka dari ka-4 lagu itu, terus penggalan lirik tersebut kau satukan dan jadiin cerita, yaa inspirasi bisa datang dari mana aja kan :)

Karena hidup aku lagi bersemangat dan penuh optimisme yang tiba-tiba masuk ke sel-sel darah *hadeehhh... Jadi aku pilih lagunya The Show - Lenka, Can I Walk With You - India Arie, Michael Buble - Everything,  Adam Sandler - Grow Old With You, dan ini dia hasilnya:

I'm just a little girl lost in the moment
I'm so scared but I don't show it
I can't figure it out
It's bringing me down I know
I've got to let it go
And just enjoy the show

The sun is hot
In the sky
Just like a giant spotlight
The people follow the sign
And synchronize in time
It's a joke
Nobody knows
They've got a ticket to that show
Yeah [The Show - Lenka]

And in this crazy life
And through these crazy times
Its you, Its you
You make me sing
You're every line
You're every word
You're everything

You're a carousel
You're a wishing well
And you light me up, when you ring my bell
You're a mystery
You're from outer space
You're every minute of everyday [Everything - Michael Buble]

I woke up this morning you were the first thing on my mind
I don't know where it came from all I know is I need you in my life
You make me feel like I can be a better woman
If you just say you wanna take this friendship to another place

Can I walk with you through your life
Can I lay with you as your wife
Can I be your friend till the end
Can I walk with you through your life [Can I Walk With You - India Arie]

I wanna make you smile whenever you're sad
Carry you around when your arthritis is bad
All I wanna do is grow old with you

I'll get your medicine when your tummy aches
Build you a fire if the furnace breaks
Oh it could be so nice, growing old with you [Grow Old With You - Adam Sandler] 

--> jadi gini maksud ceritanya:

Ada seorang perempuan yang sudah berpetualang dalam dunia percintaan, (ampun maafkanlah bahasa-bahasa baku ini). Dia berada dalam titik lelahnya menghadapi masalah cinta yang sudah berapa kali dia alami. Dia memilih single dan bersuka cita sama statusnya, menatap dan meresapi dunia dengan kesadarannya. Sampai suatu hari dia menemukan (mimpi) sosok lelaki yang tepat, yang membuat dia ngerasain indahnya jatuh cinta lagi, ngga ragu untuk merasa tersakiti di kemudian hari. Kamu tau kangimana rasanya kalau ketemu orang yang benar-benar tepat dan dia memang tercipta untuk kamu??
Ya seperti itulah rasa yang perempuan ini rasakan, dunianya berubah saat laki-laki itu datang, membuainya, mebuatnya bermimpi tentang masa depan, sosok pria yang pantas untuk mendampinginya. Oh iya, dia belum pernah ketemu laki-laki ini, tapi dia sudah terlanjur jatuh cinta. Bayangan mendahului sosoknya :D

Nah.... itulah imajinasi aku untuk 4 lagu yang disebutin barusan, ini bisa jadi beda versi buat setiap orang, aku juga bisa buat versi lainnya, tapi cerita ini yang paling menarik, jadi cukup ini yang ditulis.

Dan ini dia penggalan rules buat ikut "main" permainan ini dari blognya @mbakdos di www.dudukbersila.com :

See..?

Bukankah luar biasa saat mengetahui bahwa penggalan-penggalan lagu itu jika digabungkan bisa menciptakan suatu tulisan yang.. yaa.. ‘bercerita’?!

Tapi, tunggu dulu!

Bukan itu bagian yang paling menakjubkan.

Ngg.. tapi tidak akan seru kalau kita tidak mencobanya bersama-sama.

So, let’s!

Sebutkan tiga atau empat lagu yang paling menempel di kepala kita. Kemudian tuliskan secara lengkap lirik dari tiap lagu itu. Jika sudah, pilih bagian mana saja dari tiap lagu untuk kemudian digabungkan dengan lagu-lagu lain. Yaa.. tentu bukan sembarang memilih untuk digabungkan, tetapi biasanya sih kita toh tetap akan mempertimbangkan nyambung-enggaknya antara satu penggalan lirik dengan penggalan lainnya.
Kalau sudah, mulailah dibuat tulisan yang sifatnya menceritakan ulang apa yang kita tangkap dari keseluruhan lirik baru yang sudah kita buat dari penggalan-penggalan tadi. Sampai akhirnya menjadi sebuah cerita yang utuh.

Lantas, di mana keajaibannya?

Oke. Coba saja dibaca lagi dengan seksama cerita yang sudah kita buat itu.

Sounds familiar?

Mestinya sih begitu.
Karena mungkin, cerita yang baru saja kita tuliskan itu tak lain adalah cerita yang menggambarkan satu fase tertentu dalam kehidupan kita yang sesungguhnya.

Amazing, isn’t it?

Eh, lalu bagaimana dengan cerita yang baru saja saya buat? Apakah itu juga menggambarkan kehidupan saya yang sesungguhnya?

Hmm.. mungkin.

Mungkin juga tidak ;-)

Sunday, September 12, 2010

Bermain Dengan Cinta

Pelacuran yang terselubung. Aku menginjak 24 tahun, tak ada yang tahu, dan memang tak perlu tahu. Hanya wanita-wanita berduit itu yang tau.

Malam itu ia sendirian, wajah cantik yang mendekati sempurna, hanya lingarie putih tipis yang membalut kulit ranum itu, membuat keringat jagungku semakin buas menetes tak karuan seiring dengan pikiran liarku. Demi Tuhan aku berusaha memalingkan mataku dari objek yang sangat indah di kursi sebelah, sangat sayang sekali aku tak bisa menahannya, beringsut perlahan aku kembali ke kamar. Sebuah tangan halus mencengkramku, "Jangan Pergi!" Ibu tiriku tersenyum nakal, memelukku, menciumku sejadi-jadinya, melucuti pakaian dan membawaku ke Surga. Ah sial! Kenapa Ayah yang menemukannya pertama kali.

Seringkali Ayah pergi, aku menikmatinya, tak perlu menahan cemburu yang ingin segera mendobrak keluar, atau memang dia melakukan hal yang sama?? Aku tak peduli, di hadapanku terlentang wanita cantik yang kukagumi, ibu yang "memeliharaku".

Malam itu ibu mengadakan arisan di rumah, ibu-ibu cantik kesepian yang bermandikan uang satu persatu bermunculan. Pria-pria seumurku telah mereka sewa sebagai bartender alih-alih penikmat kebutuhan mereka, cih!

Aku menyelinap menuju garasi, ibu melihatku dan melakukan aksinya, kencan kilat di dalam mobil yang menimbulkan sensasi luar biasa. Ia menggiringku masuk, mengenalkanku pada teman-temannya. Mereka itu manusia sejenis apa?? Seperti sekumpulan singa betina yang haus akan daging segar, menikmatiku setiap inchi tubuhku. Lagi-lagi aku menikmatinya.

Tak aneh buatku melihat pria-pria muda hilir mudik di rumah, aku tak ambil pusing. Aku siap dengan panggilan-panggilan telepon di handphoneku. Ya bukan hanya satu panggilan, namun panggilan-panggilan yang menyeru memaksaku untuk berada ditempat mereka tepat waktu. Aku bagian dari mereka kini. Oh ibu baruku hebat, aku mendapat hadiah plus dari kehadirannya.

Saturday, September 11, 2010

#wmdct

Kamu bukan bintang, aku juga bukan matahari, ini bukan cinta yang kita mau, on off sesuai kemunculannya.

Bagaimana kalau kamu langit?? Ya itu lebih baik, dan aku adalah bumi. Kemanapun kaki ini berpijak, kamu selalu ada, tak peduli diatasku atau harus disebelahku, kamu sangat tau harus dimana berada.

Seksi itu kamu, yang membuatku kagum untuk otakmu yang cemerlang. Kamu memang bukan pria yang romantis, tapi itu memang tak perlu, tak perlu untuk membuang janji-janji yang bisa kamu janjikan kepada perempuan mana saja, janji yang sama. Cinta kita memang bukan kata-kata, kau membuatku percaya. Mungkin itu kamu yang membuat mataku tak bisa berpaling, meneduhiku dengan pancaran cintamu.

Dan mungkin itu memang aku, yang melonjak kegirangan di dalam hati, aku temukan jendela yang mungkin hampir tepat. Hanya jendela itu yang terbuka dan membuatku menoleh.

Tuhan mengirimkanku malaikat terbaiknya, yang membuatku sempurna dalam ketidaksempurnaan. Kamu bilang aku membuat hidupmu berarti, eh??? Itu bukan, itu terbalik. Ah iya, kita terlalu bingung, melayang tersulut cinta, sudahlah....

Perlukah aku kabarkan kabar bahagia ini sekarang?? Hmmm bisikilah sahabatku dulu, atau tidak perlu?? Baiklah, aku simpan rapat-rapat saja sampai waktunya tiba, psssttt mari kita ber-rahasia, ini seru. Sekali lagi kau membuat hidupku berpetualang.

Tuhan terima kasih atas hadiah terbaik-Mu, #wmdct :)